Dengan apakah kubandingkan pertemuan kita, kekasihku?
Dengan senja samar sepoi, pada masa purnama meningkat naik,
Setelah menghalaukan panas payah terik
Angin malam menghembus lemah, menyejuk badan, melambung rasa
Menayang pikir, membawa angan ke bawah kursiMu.
Hatiku terang menerima kataMu, bagai bintang memasang lilin.
Kalbuku terbuka menunggu kasihMu, bagai sedap malam menyirak kelopak.
Aduh kekasih hatiku, isi hatiku dengan kataMu, penuhi dadaku.
Dengan cayaMu, biar bersinar mataku sendu, biar berbinar gelakku rayu.
Kamis, 27 Oktober 2011
Hampa
Sepi di luar
Sepi menekan mendesak
Lurus kaku pohonan
Tak bergerak
Sampai ke puncak
Sepi memagut
Segala menanti, menanti, menanti
Sepi
Tambah ini menanti jadi mencekik
Memberat mencekung punda
Sampai binasa segala.
Belum apa-apa
Sepi menekan mendesak
Lurus kaku pohonan
Tak bergerak
Sampai ke puncak
Sepi memagut
Segala menanti, menanti, menanti
Sepi
Tambah ini menanti jadi mencekik
Memberat mencekung punda
Sampai binasa segala.
Belum apa-apa
Makna Sebuah Titipan
Sering kah aku berkata, ketika orang memuji milikku, bahwa:
Sesungguhnya ini hanya titipan, bahwa mobilku
hanya titipan Allah bahwa rumahku hanya titipan Nya,
bahwa hartaku hanya titipan Nya,
bahwa putraku hanya titipan Nya,
Tetapi, mengapa aku tak pernah bertanya,
Mengapa Dia menitipkan padaku?
Untuk apa Dia menitipkan ini pada ku?
Dan kalau bukan milikku,
Apa yang harus kulakukan untuk milik Nya ini?
Sesungguhnya ini hanya titipan, bahwa mobilku
hanya titipan Allah bahwa rumahku hanya titipan Nya,
bahwa hartaku hanya titipan Nya,
bahwa putraku hanya titipan Nya,
Tetapi, mengapa aku tak pernah bertanya,
Mengapa Dia menitipkan padaku?
Untuk apa Dia menitipkan ini pada ku?
Dan kalau bukan milikku,
Apa yang harus kulakukan untuk milik Nya ini?
Perempuan-Perempuan Perkasa
Perempuan-perempuan yang membawa bakul di pagi buta,
Dari manakah mereka
Ke stasiun mereka datang dari bukit-bukit desa
Sebelum peluit kereta pagi terjaga
Sebelum hari bermula dalam pesta kerja
Perempuan-perempuan yang membawa bakul di pagi buta,
Ke manakah mereka
Di atas roda-roda baja mereka berkendara
Mereka berlomba dengan surya menuju gerbang kota
Merebut hidup di pasar-pasar kota
Dari manakah mereka
Ke stasiun mereka datang dari bukit-bukit desa
Sebelum peluit kereta pagi terjaga
Sebelum hari bermula dalam pesta kerja
Perempuan-perempuan yang membawa bakul di pagi buta,
Ke manakah mereka
Di atas roda-roda baja mereka berkendara
Mereka berlomba dengan surya menuju gerbang kota
Merebut hidup di pasar-pasar kota
Nyanyian Suto Untuk Fatima
Duapuluh matahari
Bangkit dari pundakmu
Tubuhmu menguapkan bau tanah
Dan menyalalah sukmamu
Langit bagai kain tetoron yang biru
Terbentang
Berkilat dan berkilauan
Menantang jendela kalbu yang berdukacita
Rohku dan rohmu
Bangkit dari pundakmu
Tubuhmu menguapkan bau tanah
Dan menyalalah sukmamu
Langit bagai kain tetoron yang biru
Terbentang
Berkilat dan berkilauan
Menantang jendela kalbu yang berdukacita
Rohku dan rohmu
Kita Adalah Pemilik Sah Republik Ini
Tidak ada lagi pilihan lain
Kita harus
Berjalan terus
Kita adalah manusia bermata sayu,
yang di tepi jalan
Mengacungkan tangan untuk oplet
dan bus yang penuh
Kita adalah berpuluh juta
yang bertahan hidup sengsara
Kita harus
Berjalan terus
Kita adalah manusia bermata sayu,
yang di tepi jalan
Mengacungkan tangan untuk oplet
dan bus yang penuh
Kita adalah berpuluh juta
yang bertahan hidup sengsara
Yang Kami Minta Hanyalah
Yang kami minta hanyalah sebuah bendungan saja
Penawar musim kemarau dan tangkal bahaya banjir
Tentu Bapa sudah melihat gambarnya di koran kota
Tatkala semua orang bersedih sekadarnya
Yang kami minta hanya sebuah bendungan saja
Tidak tugu atau tempat main bola
Air mancur warna-warni
Penawar musim kemarau dan tangkal bahaya banjir
Tentu Bapa sudah melihat gambarnya di koran kota
Tatkala semua orang bersedih sekadarnya
Yang kami minta hanya sebuah bendungan saja
Tidak tugu atau tempat main bola
Air mancur warna-warni
Karangan Bunga
Tiga anak kecil
Dalam langkah malu-malu
Datang ke Salemba
Sore itu
“Ini dari kami bertiga
Pita hitam dalam karangan bunga
Sebab kami ikut berduka
Bagi kakak yang ditembak mati
Sore itu”
Dalam langkah malu-malu
Datang ke Salemba
Sore itu
“Ini dari kami bertiga
Pita hitam dalam karangan bunga
Sebab kami ikut berduka
Bagi kakak yang ditembak mati
Sore itu”
Seratus Juta
Umat miskin dan pengangguran berdiri hari ini
Seratus juta banyaknya
Di tengah mereka tak tahu akan berbuat apa
Kini kutundukan kepala karena
Ada sesuatu besar luar biasa
Hingga terasa dari rongga dada
Saudaraku yang sirna nafkah tanpa kerja
berdiri hari ini
Seratus juta banyaknya
Kita mesti berbuat sesuatu, betapapun sukarnya
Oleh : Taufiq Ismail
Seratus juta banyaknya
Di tengah mereka tak tahu akan berbuat apa
Kini kutundukan kepala karena
Ada sesuatu besar luar biasa
Hingga terasa dari rongga dada
Saudaraku yang sirna nafkah tanpa kerja
berdiri hari ini
Seratus juta banyaknya
Kita mesti berbuat sesuatu, betapapun sukarnya
Oleh : Taufiq Ismail
Derai Derai Cemara
Cemara menderai sampai jauh
Terasa hari akan jadi malam
Ada beberapa bahan di tingkap merapuh
Dipukul angin yang terpendam
Aku sekarang orangnya bisa tahan
Sudah berapa waktu bukan kanak lagi
Tapi dulu memang ada suatu bahan
Yang bukan dasar perhitungan kini
Terasa hari akan jadi malam
Ada beberapa bahan di tingkap merapuh
Dipukul angin yang terpendam
Aku sekarang orangnya bisa tahan
Sudah berapa waktu bukan kanak lagi
Tapi dulu memang ada suatu bahan
Yang bukan dasar perhitungan kini
Doa Orang Lapar
Kelaparan adalah burung gagak
Yang licik dan hitam
Jutaan burung-burung gagak
Bagai awan yang hitam
O Allah!
Burung gagak menakutkan
Dan kelaparan adalah burung gagak
Yang licik dan hitam
Jutaan burung-burung gagak
Bagai awan yang hitam
O Allah!
Burung gagak menakutkan
Dan kelaparan adalah burung gagak
Sajak Putih
Bersandar pada tari warna pelangi
Kau depanku bertudung sutra senja
Di hitam matamu kembang mawar dan melati
Harum rambutmu mengalun bergelut senda
Sepi menyanyi, malam dalam mendoa tiba
Meriak muka air kolam jiwa
Dan dalam dadaku memerdu lagu
Menarik menari seluruh aku
Kau depanku bertudung sutra senja
Di hitam matamu kembang mawar dan melati
Harum rambutmu mengalun bergelut senda
Sepi menyanyi, malam dalam mendoa tiba
Meriak muka air kolam jiwa
Dan dalam dadaku memerdu lagu
Menarik menari seluruh aku
Dirimu...
Dahulu...
Engkau disini memberiku kenyamanan
Kenyamanan dimanaku berada kini
Kadang kau buatku terjatuh
Dalam kesenangan yang kau bentuk buatku
Lupa...
Ku lupa akan sekelilingku
Melihatmu...
Adalah anugrah buatku
Engkau disini memberiku kenyamanan
Kenyamanan dimanaku berada kini
Kadang kau buatku terjatuh
Dalam kesenangan yang kau bentuk buatku
Lupa...
Ku lupa akan sekelilingku
Melihatmu...
Adalah anugrah buatku
Jumat, 07 Oktober 2011
Still be Us
Sudah terlalu jauh tuk menyerah
Ayunan langkah yang sempat menggoyah
Hanya menjadi debu yang mengacaukan
Hanya menjadi boomerang yang menghancurkan
Berjuta kali ku coba menghalau nya
Layaknya tentara yang menghadang sejumlah massa
Ku coba menjadi pahlawan dalam kisahku
Mempertahankan kisah yang begitu berharga bagiku
Ayunan langkah yang sempat menggoyah
Hanya menjadi debu yang mengacaukan
Hanya menjadi boomerang yang menghancurkan
Berjuta kali ku coba menghalau nya
Layaknya tentara yang menghadang sejumlah massa
Ku coba menjadi pahlawan dalam kisahku
Mempertahankan kisah yang begitu berharga bagiku
Kehancuran Hatiku
Bersandar pada airmata
Berpangku pada penderitaan
Kau lepas aku di tengah zaman
Membiarkan ku sirna
Membalut ku dengan hujan
Menyentuh ku dengan api
Merebahkan ku pada duri
Letak ku di ujung tombak
Berpangku pada penderitaan
Kau lepas aku di tengah zaman
Membiarkan ku sirna
Membalut ku dengan hujan
Menyentuh ku dengan api
Merebahkan ku pada duri
Letak ku di ujung tombak
Kamis, 06 Oktober 2011
Cinta Yang Dipertanyakan
Lelah dengan tangisan
Lari pada kekecewaan
Haruskah???
Tak mampukah terhenti?
Ingin merasakan kebahagiaan
Walau sebentar dan bukan
Fatamorgana...
Lari pada kekecewaan
Haruskah???
Tak mampukah terhenti?
Ingin merasakan kebahagiaan
Walau sebentar dan bukan
Fatamorgana...
Forever With You
Kau...
Hanya butuh satu kata
Tuk menggambarkan mu
Sempurna...
Bagi ku kau sempurna
Sempurna dalam mencuri hati ku
Sempurna dalam memeluk jiwa ku
Sempurna dalam menyentuh batin ku
Hanya butuh satu kata
Tuk menggambarkan mu
Sempurna...
Bagi ku kau sempurna
Sempurna dalam mencuri hati ku
Sempurna dalam memeluk jiwa ku
Sempurna dalam menyentuh batin ku
Lagu Usang
Musik itu mengalun kembali.
Mengajak aku bernyanyi,
Lagu lama yang usang
Yang setiap katanya adalah hatiku
Dan nadanya menjadi bagian dari ku
Bagai terjebak dalam suatu augede
Dengan konduktor dan tongkatnya yang menusuk nusuk
Mengajak aku bernyanyi,
Lagu lama yang usang
Yang setiap katanya adalah hatiku
Dan nadanya menjadi bagian dari ku
Bagai terjebak dalam suatu augede
Dengan konduktor dan tongkatnya yang menusuk nusuk
Langganan:
Postingan (Atom)