Senin, 29 Agustus 2011

Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia

Ketika di Pekalongan, SMA kelas tiga
Ke Wisconsin aku dapat beasiswa
Sembilan belas lima enam itulah tahunnya
Aku gembira jadi anak revolusi Indonesia
Negeriku baru enam tahun terhormat diakui dunia
Terasa hebat merebut merdeka dari Belanda
Sahabatku sekelas, Thomas Stone namanya,
Whitefish Bay kampung asalnya
Kagum dia pada revolusi Indonesia
Dia mengarang tentang pertempuran Surabaya
Jelas Bung Tomo sebagai tokoh utama

Abdul Muluk

Berhentilah kisah raja Hindustan,
Tersebutlah pula suatu perkataan,
Abdul Hamid Syah paduka sultan,
Duduklah baginda bersuka-sukaan.

Abdul Muluk putera baginda,
Besarlah sudah bangsawan muda,
Cantik menjelis’ usulnya syahda,
Tiga belas tahun umurnya ada.

Awang Sulung Merah Hendak Merantau

Awang Sulung Merah Muda:
”Ribu-ribu jalan ke kandis,
Landak membawa guliganya;
Badanku tinggal jangan menangis,
Anak membawa akan nasibnya”.

Maka dibalas oleh emak bungsunya:
”Air berolak menjala ikan,
Encik Seman menjala udang;
Anakku bertolak bunda pesankan,
Jangan lama di rantau orang”.

Dengarlah Pantun

Buah ara, batang dibangun,
mari bantun dengan parang.
Hai saudara dengarlah pantun,
pantun tidak mengata orang.

Mari dibantun dengan parang,
berangan besar di dalam padi.
Pantun tidak mengata orang,
janganlah syak di dalam hati.

Aku Ingin

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
Dengan kata yang tak sempat diucapkan
Kayu kepada api yang menjadikannya abu

Aku ingin mencintaimu dengan sederhan
Dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
Awan kepada hujan yang menjadikannya tiada

Oleh : Sapardi Djoko Damono

Teratai

Dalam kebun di tanah airku
Tumbuh sekuntum bunga teratai
Tersembunyi kembang indah permai
Tidak terlihat orang yang lalu
Akarnya tumbuh di hati dunia
Daun bersemi Laksmi mengarang
Biarpun dia diabaikan orang
Seroja kembang gemilang mulia
Teruskan, O Teratai Bahagia
Berseri di kebun Indonesia
Biar sedikit penjaga taman
Biarpun engkau tidak dilihat
Biarpun engkau tidak diminat
Engkaupun turut menjaga zaman

Oleh : Sanusi Pane

Menyesal

Pagiku hilang sudah melayang
Hari mudaku sudah pergi
Sekarang petang datang membayang
Batang usiaku sudah tinggi.
Aku lalai di pagi hari
Beta lengah di masa muda
Kini hidup meracun hati
Miskin ilmu, miskin harta.
Akh, apa guna kusesalkan
Menyesal tua tiada berguna
Hanya menambah luka sukma.
Kepada yang muda kuharapkan
Atur barisan di hari pagi
Menuju ke atas padang bakti!

Oleh : A. Hasjmi

Sajak Gadis dan Majikan

Janganlah tuan seenaknya memelukku
Ke mana arahnya, sudah cukup aku tahu
Aku bukan ahli ilmu menduga,
Tetapi jelas sudah kutahu
Pelukan ini apa artinya...

Siallah pendidikan yang aku terima
Diajar aku berhitung, mengetik, bahasa asing,
kerapian, dan tata cara.
Tetapi lupa diajarkan:
bila dipeluk majikan dari belakang
lalu sikapku bagaimana!
Janganlah tuan seenaknya memelukku.
Sedangkan pacarku tak berani selangsung itu.
Apakah tujuan tuan, sudah cukup aku tahu,
Ketika tuan siku dadaku,
Sudah kutahu apa artinya...

Telepon Tengah Malam

Telepon berkali-kali berdering, kubiarkan saja.
Sudah sering aku terima telepon dan bertanya
”siapa ini?”, jawabnya cuma ”ini siapa?”.

Ada dering telepon, panjang dan keras,
dalam rongga dadaku.
”Ini siapa, tengah malam telepon?
Mengganggu saja.”
”Ini Ibu, Nak. Apa kabar?”

Tamu

Getar kabut di kakimu
Tertinggal sebelum kau tolakkan pintu. Selamat malam.

Aku duduk sendiri, menulis surat, telah lupa seribu alamat
Dalam hati
Selamat malam, kau berseru, aku datang dari kota, singgah bertamu
(Kulihat hujan telah membiru pada wajahmu dan engahan
menanjak lewat pusatmu dadamu). Siapakah tuan?
Kau menyodorkan sebuah senapang: aku pemburu.

Tenteram. Hanya bayang-bayang kita
Teronggok berdesak-desakan.

Penerimaan

Kalau kau mau kuterima kau kembali
Dengan sepenuh hati

Aku masih tetap sendiri

Kutahu kau bukan yang dulu lagi
Bak kembang sari sudah terbagi

Jangan tunduk! Tentang aku dengan berani
Kalau kau mau kuterima kau kembali
Untukku sendiri tapi
Sedang dengan cermin aku enggan berbagi

Oleh : Chairil Anwar

Dewa Telah Mati

Tak ada dewa di rawa-rawa ini
Hanya gagak yang mengakak malam hari
Dan siang terbang mengitari bangkai
Pertapa yang terbunuh dekat kuil

Dewa telah mati di tepi-tepi ini
Hanya ular yang mendesir dekat sumber
Lalu minum dari mulut
Pelacur yang tersenyum dengan bayang sendiri

Pahlawan Tak Dikenal

Sepuluh tahun yang lalu dia terbaring
Tetapi bukan tidur, sayang
Sebuah lubang peluru bundar di dadanya
Senyum bekunya mau berkata, kita sedang perang

Dia tidak ingat bilamana dia datang
Kedua lengannya memeluk senapan
Dia tidak tahu untuk siapa dia datang
Kemudian dia terbaring, tapi bukan tidur sayang

Hai Laila

Hai Laila, sudah lama kita menunggumu
Sudah satu jam, berdering bel untuk satu jam pelajaranmu
Bukumu sudah kau baca tapi sudahkah ia masuk di kepalamu?
Otakmu kosong melompong, di atas kepalamu ada si tampan itu
Ulangan untukmu Rafi’ah... 9,5
Semua bersorak, bersiul-siul
Untukmu Laila... 4,5
Tercengang, dan nampak buku-buku cekakak-cekikik melihat Laila termenung kaku

Kabar Bagi Maida 1

Aku terluka di tempat gempa, maida
Bukan oleh puing atau reruntuhan dinding
Tapi oleh derita yang tertangkap mata
Telah mencabik-cabik batinku.
Aku melihat rumah rebah ke tanah.
Kota yang dulu cantik kini telah menjadi kota puing.

Di sepanjang jalan mata seakan dicucuk duri ikan.
Kepedihan mereka menyusup ke dada.
Aku tak berpikir ini salah siapa.
Saut pun berpuisi, ”bencana alam bukan dosa!”

Kampung

Kalau aku pergi ke luar negeri, dik
Karena hawa di sini sudah pengap oleh pikiran-pikiran beku.

Hidup di negeri ini seperti di dalam kampung
Di mana setiap orang ingin bikin peraturan
mengenai lalu lintas di gang, jaga malam dan
daftar diri di kemantrean.

Di mana setiap orang ingin bersuara
dan berbincang-bincang tentang susila, politik dan agama
seperti soal-soal yang dikuasai.

Batu Yang Bernyanyi

”Tuhan,” katamu, ”bersahabat dengan diam. Kembang tumbuh tanpa kata. Bulan bergerak, tanpa berisik.”

Maka, menyeberang dari kata, dari gemuruh dan tempik sorak,
Dari kasak-kusuk dan teriak, aku pun masuk ke dalam diam.
Kesunyian tumbuh jadi kata.
Diam mengembang jadi bahasa.

Bumi terus berputar, tanpa derak.
Waktu mengalir, tanpa kelucak.
Dan dalam diam, pepohonan menggeliat, batu-batu bernyanyi.
Rerumput tumbuh, tanpa bunyi. Embun lindap, seperti pencuri diam-diam datang merayakan pagi.

Perahu Kertas

Waktu masih kanak-kanak
Kau membuat perahu kertas
Dan kau layarkan di tepi kali;
Alirnya sangat tenang,
Dan perahumu bergoyang menuju lautan.

”Ia akan singgah di bandar-bandar besar,” kata seorang lelaki tua.

Kau sangat gembira,
Pulang dengan berbagai warna-warni di kepala.

Sahabat…

Sahabat…
Tidak menangis di kala sahabatnya menangis
Tapi sahabat
Akan menghapus air mata, saat sahabatnya menangis

Sahabat...
Bukankah seorang yang tidak pernah mengecewakan sahabatnya
Tapi sahabat,
Akan selalu berusaha memberikan yang terbaik

Sahabat...
Adakalanya tak sejalan dengan pikiran sahabatnya
Tapi sahabat,
Akan selalu bisa memaklumi satu dengan yang lain

The Last Five Minutes

Just five minutes
For this is the last time
We could meet
Before a very long journey
Of each other own

Just five minutes
To recall those memories
To gather the happy and bad times
The puzzled along this rocky road

I just ask five minutes
To look into your eyes
To feel you by my side
To share the love

Doa ku

Tuhan yang baik...
Tolong...berikan ijin kepada malaikat-Mu
Untuk menjaga para sahabat ku
Di kala penjagaanku tak sampai kepada mereka

Sayangi mereka ya Tuhan...
Di kala rasa sayangku tak mampu merengkuh dalam dekapan nyata

Sampaikan rasa rindukan pada mereka Tuhan...
Di kala rinduku tak mampu terangkum dalam kata yang sahaja...

Minggu, 21 Agustus 2011

’13’ di...

19 Maret 2009...
Awalnya aku tak mengerti ocehan guru
Namun tanganku tak bergerak untuk berbuat sesuatu
Hanya sebuah coretan pena
Dalam lembaran garis putih yang tak terencana
Teruntuk mabes-kireina, getakesu, angkatan-13 yang di...

Pokoknya gue harus bisa
Terserah loe mau apa
Nanti bakal gue buktiin

Miracle of 13

Ku ungkapkan manis di hadapanmu
Walau pahit merajai kerongkonganku
Kau nikmati seutuhnya kasih dan sayang itu
Sedang nyawaku ada dalam genggamanmu
Menari, bernyanyi, berlari memeluk matahari
Terbang tenggelam di ufuk jiwa yang mulai rapuh
Menantimu kawan...
Menantimu menyambut raihan tanganku

Ku sematkan cinta tulus menembus hembusan nafasmu
Dalam...
Terlalu dalam...
Hingga ajal menjemput tak jua lepas dari badan
Inilah persembahanku padamu
Sebut saja kata-kata usang