Bunda yang telah beranjak sepuh,
dan kau yang telah tumbuh dewasa,
Kala yang biasanya mudah dan tanpa upaya,
kini menjadi beban,
Kala mata terkasihnya nan setia
tak menerawang kehidupan seperti dulu,
Kala kakinya mulai lelah dan enggan menyokong tubuhnya lagi,
Kala itu berikanlah lenganmu untuk menyokongnya,
Waktu akan tiba
Ketika kau terisak menemaninya
dalam perjalanan terakhirnyaSenin, 05 Desember 2011
Puisi Untuk Bunda
Derai-Derai Cemara
Cemara menderai sampai jauh
terasa hari akan jadi malam
ada beberapa dahan di tingkap merapuh
dipukul angin yang terpendam
Aku sekarang orangnya bisa tahan
Hidup hanya menunda kekalahan
sudah berapa waktu bukan kanak lagi
tapi dulu memang ada suatu bahan
yang bukan dasar perhitungan kini
terasa hari akan jadi malam
ada beberapa dahan di tingkap merapuh
dipukul angin yang terpendam
Aku sekarang orangnya bisa tahan
Hidup hanya menunda kekalahan
sudah berapa waktu bukan kanak lagi
tapi dulu memang ada suatu bahan
yang bukan dasar perhitungan kini
Selasa, 08 November 2011
Menjadi Kuat
Serasa masih bersamanya
Selalu terkenang kebaikannya
Serasa aku tak pernah patah hati
Setiap kali memandangnya
Hatiku selalu bergetar
Serasa tidak bisa melepaskannya
Tiada yang bisa menggantikannya
Aku tidak boleh terlihat lemah
Selalu terkenang kebaikannya
Serasa aku tak pernah patah hati
Setiap kali memandangnya
Hatiku selalu bergetar
Serasa tidak bisa melepaskannya
Tiada yang bisa menggantikannya
Aku tidak boleh terlihat lemah
Damai
Aku datang menemuimu
Dengan hati sejuk
Dan pikiran yang tenang
Kududuk bersamamu
Di bawah pohon besar
Dan rindang...!!!
Kudengar suaramu merdu
Dan kutatap wajahmu
Yang begitu indah
Tuhan...!!!
Dengan hati sejuk
Dan pikiran yang tenang
Kududuk bersamamu
Di bawah pohon besar
Dan rindang...!!!
Kudengar suaramu merdu
Dan kutatap wajahmu
Yang begitu indah
Tuhan...!!!
Sahabatku
Kaulah yang satu
Arif tutur katamu
Bak kidung penyambut pagi
Yang telah membangunkan aku
Tanganmu menggapaiku
Aku telah bangkit dan
Menapaki jalan ku dengan asa yang baru
Hari ini aku tersenyum
Terimakasih sahabatku
Arif tutur katamu
Bak kidung penyambut pagi
Yang telah membangunkan aku
Tanganmu menggapaiku
Aku telah bangkit dan
Menapaki jalan ku dengan asa yang baru
Hari ini aku tersenyum
Terimakasih sahabatku
Drama Kehidupan
Di sini ada drama
Di sana juga ada
Drama kehidupan manusia
Yang penuh kebohongan
Diperankan kaum birokrat
Kami adalah korban drama
Hanya demi uang dan jabatan
Yang hanya bersifat sementara
Di sana juga ada
Drama kehidupan manusia
Yang penuh kebohongan
Diperankan kaum birokrat
Kami adalah korban drama
Hanya demi uang dan jabatan
Yang hanya bersifat sementara
Kamis, 27 Oktober 2011
Doa
Dengan apakah kubandingkan pertemuan kita, kekasihku?
Dengan senja samar sepoi, pada masa purnama meningkat naik,
Setelah menghalaukan panas payah terik
Angin malam menghembus lemah, menyejuk badan, melambung rasa
Menayang pikir, membawa angan ke bawah kursiMu.
Hatiku terang menerima kataMu, bagai bintang memasang lilin.
Kalbuku terbuka menunggu kasihMu, bagai sedap malam menyirak kelopak.
Aduh kekasih hatiku, isi hatiku dengan kataMu, penuhi dadaku.
Dengan cayaMu, biar bersinar mataku sendu, biar berbinar gelakku rayu.
Dengan senja samar sepoi, pada masa purnama meningkat naik,
Setelah menghalaukan panas payah terik
Angin malam menghembus lemah, menyejuk badan, melambung rasa
Menayang pikir, membawa angan ke bawah kursiMu.
Hatiku terang menerima kataMu, bagai bintang memasang lilin.
Kalbuku terbuka menunggu kasihMu, bagai sedap malam menyirak kelopak.
Aduh kekasih hatiku, isi hatiku dengan kataMu, penuhi dadaku.
Dengan cayaMu, biar bersinar mataku sendu, biar berbinar gelakku rayu.
Hampa
Sepi di luar
Sepi menekan mendesak
Lurus kaku pohonan
Tak bergerak
Sampai ke puncak
Sepi memagut
Segala menanti, menanti, menanti
Sepi
Tambah ini menanti jadi mencekik
Memberat mencekung punda
Sampai binasa segala.
Belum apa-apa
Sepi menekan mendesak
Lurus kaku pohonan
Tak bergerak
Sampai ke puncak
Sepi memagut
Segala menanti, menanti, menanti
Sepi
Tambah ini menanti jadi mencekik
Memberat mencekung punda
Sampai binasa segala.
Belum apa-apa
Makna Sebuah Titipan
Sering kah aku berkata, ketika orang memuji milikku, bahwa:
Sesungguhnya ini hanya titipan, bahwa mobilku
hanya titipan Allah bahwa rumahku hanya titipan Nya,
bahwa hartaku hanya titipan Nya,
bahwa putraku hanya titipan Nya,
Tetapi, mengapa aku tak pernah bertanya,
Mengapa Dia menitipkan padaku?
Untuk apa Dia menitipkan ini pada ku?
Dan kalau bukan milikku,
Apa yang harus kulakukan untuk milik Nya ini?
Sesungguhnya ini hanya titipan, bahwa mobilku
hanya titipan Allah bahwa rumahku hanya titipan Nya,
bahwa hartaku hanya titipan Nya,
bahwa putraku hanya titipan Nya,
Tetapi, mengapa aku tak pernah bertanya,
Mengapa Dia menitipkan padaku?
Untuk apa Dia menitipkan ini pada ku?
Dan kalau bukan milikku,
Apa yang harus kulakukan untuk milik Nya ini?
Perempuan-Perempuan Perkasa
Perempuan-perempuan yang membawa bakul di pagi buta,
Dari manakah mereka
Ke stasiun mereka datang dari bukit-bukit desa
Sebelum peluit kereta pagi terjaga
Sebelum hari bermula dalam pesta kerja
Perempuan-perempuan yang membawa bakul di pagi buta,
Ke manakah mereka
Di atas roda-roda baja mereka berkendara
Mereka berlomba dengan surya menuju gerbang kota
Merebut hidup di pasar-pasar kota
Dari manakah mereka
Ke stasiun mereka datang dari bukit-bukit desa
Sebelum peluit kereta pagi terjaga
Sebelum hari bermula dalam pesta kerja
Perempuan-perempuan yang membawa bakul di pagi buta,
Ke manakah mereka
Di atas roda-roda baja mereka berkendara
Mereka berlomba dengan surya menuju gerbang kota
Merebut hidup di pasar-pasar kota
Nyanyian Suto Untuk Fatima
Duapuluh matahari
Bangkit dari pundakmu
Tubuhmu menguapkan bau tanah
Dan menyalalah sukmamu
Langit bagai kain tetoron yang biru
Terbentang
Berkilat dan berkilauan
Menantang jendela kalbu yang berdukacita
Rohku dan rohmu
Bangkit dari pundakmu
Tubuhmu menguapkan bau tanah
Dan menyalalah sukmamu
Langit bagai kain tetoron yang biru
Terbentang
Berkilat dan berkilauan
Menantang jendela kalbu yang berdukacita
Rohku dan rohmu
Kita Adalah Pemilik Sah Republik Ini
Tidak ada lagi pilihan lain
Kita harus
Berjalan terus
Kita adalah manusia bermata sayu,
yang di tepi jalan
Mengacungkan tangan untuk oplet
dan bus yang penuh
Kita adalah berpuluh juta
yang bertahan hidup sengsara
Kita harus
Berjalan terus
Kita adalah manusia bermata sayu,
yang di tepi jalan
Mengacungkan tangan untuk oplet
dan bus yang penuh
Kita adalah berpuluh juta
yang bertahan hidup sengsara
Yang Kami Minta Hanyalah
Yang kami minta hanyalah sebuah bendungan saja
Penawar musim kemarau dan tangkal bahaya banjir
Tentu Bapa sudah melihat gambarnya di koran kota
Tatkala semua orang bersedih sekadarnya
Yang kami minta hanya sebuah bendungan saja
Tidak tugu atau tempat main bola
Air mancur warna-warni
Penawar musim kemarau dan tangkal bahaya banjir
Tentu Bapa sudah melihat gambarnya di koran kota
Tatkala semua orang bersedih sekadarnya
Yang kami minta hanya sebuah bendungan saja
Tidak tugu atau tempat main bola
Air mancur warna-warni
Karangan Bunga
Tiga anak kecil
Dalam langkah malu-malu
Datang ke Salemba
Sore itu
“Ini dari kami bertiga
Pita hitam dalam karangan bunga
Sebab kami ikut berduka
Bagi kakak yang ditembak mati
Sore itu”
Dalam langkah malu-malu
Datang ke Salemba
Sore itu
“Ini dari kami bertiga
Pita hitam dalam karangan bunga
Sebab kami ikut berduka
Bagi kakak yang ditembak mati
Sore itu”
Seratus Juta
Umat miskin dan pengangguran berdiri hari ini
Seratus juta banyaknya
Di tengah mereka tak tahu akan berbuat apa
Kini kutundukan kepala karena
Ada sesuatu besar luar biasa
Hingga terasa dari rongga dada
Saudaraku yang sirna nafkah tanpa kerja
berdiri hari ini
Seratus juta banyaknya
Kita mesti berbuat sesuatu, betapapun sukarnya
Oleh : Taufiq Ismail
Seratus juta banyaknya
Di tengah mereka tak tahu akan berbuat apa
Kini kutundukan kepala karena
Ada sesuatu besar luar biasa
Hingga terasa dari rongga dada
Saudaraku yang sirna nafkah tanpa kerja
berdiri hari ini
Seratus juta banyaknya
Kita mesti berbuat sesuatu, betapapun sukarnya
Oleh : Taufiq Ismail
Derai Derai Cemara
Cemara menderai sampai jauh
Terasa hari akan jadi malam
Ada beberapa bahan di tingkap merapuh
Dipukul angin yang terpendam
Aku sekarang orangnya bisa tahan
Sudah berapa waktu bukan kanak lagi
Tapi dulu memang ada suatu bahan
Yang bukan dasar perhitungan kini
Terasa hari akan jadi malam
Ada beberapa bahan di tingkap merapuh
Dipukul angin yang terpendam
Aku sekarang orangnya bisa tahan
Sudah berapa waktu bukan kanak lagi
Tapi dulu memang ada suatu bahan
Yang bukan dasar perhitungan kini
Doa Orang Lapar
Kelaparan adalah burung gagak
Yang licik dan hitam
Jutaan burung-burung gagak
Bagai awan yang hitam
O Allah!
Burung gagak menakutkan
Dan kelaparan adalah burung gagak
Yang licik dan hitam
Jutaan burung-burung gagak
Bagai awan yang hitam
O Allah!
Burung gagak menakutkan
Dan kelaparan adalah burung gagak
Sajak Putih
Bersandar pada tari warna pelangi
Kau depanku bertudung sutra senja
Di hitam matamu kembang mawar dan melati
Harum rambutmu mengalun bergelut senda
Sepi menyanyi, malam dalam mendoa tiba
Meriak muka air kolam jiwa
Dan dalam dadaku memerdu lagu
Menarik menari seluruh aku
Kau depanku bertudung sutra senja
Di hitam matamu kembang mawar dan melati
Harum rambutmu mengalun bergelut senda
Sepi menyanyi, malam dalam mendoa tiba
Meriak muka air kolam jiwa
Dan dalam dadaku memerdu lagu
Menarik menari seluruh aku
Dirimu...
Dahulu...
Engkau disini memberiku kenyamanan
Kenyamanan dimanaku berada kini
Kadang kau buatku terjatuh
Dalam kesenangan yang kau bentuk buatku
Lupa...
Ku lupa akan sekelilingku
Melihatmu...
Adalah anugrah buatku
Engkau disini memberiku kenyamanan
Kenyamanan dimanaku berada kini
Kadang kau buatku terjatuh
Dalam kesenangan yang kau bentuk buatku
Lupa...
Ku lupa akan sekelilingku
Melihatmu...
Adalah anugrah buatku
Jumat, 07 Oktober 2011
Still be Us
Sudah terlalu jauh tuk menyerah
Ayunan langkah yang sempat menggoyah
Hanya menjadi debu yang mengacaukan
Hanya menjadi boomerang yang menghancurkan
Berjuta kali ku coba menghalau nya
Layaknya tentara yang menghadang sejumlah massa
Ku coba menjadi pahlawan dalam kisahku
Mempertahankan kisah yang begitu berharga bagiku
Ayunan langkah yang sempat menggoyah
Hanya menjadi debu yang mengacaukan
Hanya menjadi boomerang yang menghancurkan
Berjuta kali ku coba menghalau nya
Layaknya tentara yang menghadang sejumlah massa
Ku coba menjadi pahlawan dalam kisahku
Mempertahankan kisah yang begitu berharga bagiku
Kehancuran Hatiku
Bersandar pada airmata
Berpangku pada penderitaan
Kau lepas aku di tengah zaman
Membiarkan ku sirna
Membalut ku dengan hujan
Menyentuh ku dengan api
Merebahkan ku pada duri
Letak ku di ujung tombak
Berpangku pada penderitaan
Kau lepas aku di tengah zaman
Membiarkan ku sirna
Membalut ku dengan hujan
Menyentuh ku dengan api
Merebahkan ku pada duri
Letak ku di ujung tombak
Kamis, 06 Oktober 2011
Cinta Yang Dipertanyakan
Lelah dengan tangisan
Lari pada kekecewaan
Haruskah???
Tak mampukah terhenti?
Ingin merasakan kebahagiaan
Walau sebentar dan bukan
Fatamorgana...
Lari pada kekecewaan
Haruskah???
Tak mampukah terhenti?
Ingin merasakan kebahagiaan
Walau sebentar dan bukan
Fatamorgana...
Forever With You
Kau...
Hanya butuh satu kata
Tuk menggambarkan mu
Sempurna...
Bagi ku kau sempurna
Sempurna dalam mencuri hati ku
Sempurna dalam memeluk jiwa ku
Sempurna dalam menyentuh batin ku
Hanya butuh satu kata
Tuk menggambarkan mu
Sempurna...
Bagi ku kau sempurna
Sempurna dalam mencuri hati ku
Sempurna dalam memeluk jiwa ku
Sempurna dalam menyentuh batin ku
Lagu Usang
Musik itu mengalun kembali.
Mengajak aku bernyanyi,
Lagu lama yang usang
Yang setiap katanya adalah hatiku
Dan nadanya menjadi bagian dari ku
Bagai terjebak dalam suatu augede
Dengan konduktor dan tongkatnya yang menusuk nusuk
Mengajak aku bernyanyi,
Lagu lama yang usang
Yang setiap katanya adalah hatiku
Dan nadanya menjadi bagian dari ku
Bagai terjebak dalam suatu augede
Dengan konduktor dan tongkatnya yang menusuk nusuk
Jumat, 23 September 2011
Kelinciku
Kelinciku sangatlah putih
Telinga panjang mata pun bersih
Melompat-lompat berlari-lari
Menari-nari kian kemari
Kelinciku amat lucunya
Hidung bergerak tak ada diamnya
Mencium rumput dan kulit pisang
Sebelum dimakan kelinci sayang
Telinga panjang mata pun bersih
Melompat-lompat berlari-lari
Menari-nari kian kemari
Kelinciku amat lucunya
Hidung bergerak tak ada diamnya
Mencium rumput dan kulit pisang
Sebelum dimakan kelinci sayang
Matahari
Matahari
Engkau begitu indah
Pada waktu sore hari
Matahari Cahaya terang
Walaupun dipandang sekejap
Terasa indah Matahari
Ingin kuraih engkau
Dan kusimpan dalam
Genggaman tanganku
Oleh : Yudi S
Engkau begitu indah
Pada waktu sore hari
Matahari Cahaya terang
Walaupun dipandang sekejap
Terasa indah Matahari
Ingin kuraih engkau
Dan kusimpan dalam
Genggaman tanganku
Oleh : Yudi S
Kembang Sepatu
Ingin sepatu kalian berkilat
ambillah saribungaku
pergunakan baik-baik
usapkan pada sepatu
wow nampaknya berkilau
mungkin itulah sebabnya
orang menyebutku
Kembang Sepatu.
Oleh : L. K. Ara
ambillah saribungaku
pergunakan baik-baik
usapkan pada sepatu
wow nampaknya berkilau
mungkin itulah sebabnya
orang menyebutku
Kembang Sepatu.
Oleh : L. K. Ara
Sembahyang
Kemumu di dalam semak.
Jatuh melayang seleranya.
Meski ilmu setinggi tegak,
Tidak sembahyang apa gunanya.
Orang Bayang pergi mengaji,
ke Cubadak jalan ke Panti.
Meninggalkan sembahyang jadi berani,
Seperti badan takkan mati.
Jatuh melayang seleranya.
Meski ilmu setinggi tegak,
Tidak sembahyang apa gunanya.
Orang Bayang pergi mengaji,
ke Cubadak jalan ke Panti.
Meninggalkan sembahyang jadi berani,
Seperti badan takkan mati.
Senin, 29 Agustus 2011
Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia
Ketika di Pekalongan, SMA kelas tiga
Ke Wisconsin aku dapat beasiswa
Sembilan belas lima enam itulah tahunnya
Aku gembira jadi anak revolusi Indonesia
Negeriku baru enam tahun terhormat diakui dunia
Terasa hebat merebut merdeka dari Belanda
Sahabatku sekelas, Thomas Stone namanya,
Whitefish Bay kampung asalnya
Kagum dia pada revolusi Indonesia
Dia mengarang tentang pertempuran Surabaya
Jelas Bung Tomo sebagai tokoh utama
Ke Wisconsin aku dapat beasiswa
Sembilan belas lima enam itulah tahunnya
Aku gembira jadi anak revolusi Indonesia
Negeriku baru enam tahun terhormat diakui dunia
Terasa hebat merebut merdeka dari Belanda
Sahabatku sekelas, Thomas Stone namanya,
Whitefish Bay kampung asalnya
Kagum dia pada revolusi Indonesia
Dia mengarang tentang pertempuran Surabaya
Jelas Bung Tomo sebagai tokoh utama
Abdul Muluk
Berhentilah kisah raja Hindustan,
Tersebutlah pula suatu perkataan,
Abdul Hamid Syah paduka sultan,
Duduklah baginda bersuka-sukaan.
Abdul Muluk putera baginda,
Besarlah sudah bangsawan muda,
Cantik menjelis’ usulnya syahda,
Tiga belas tahun umurnya ada.
Tersebutlah pula suatu perkataan,
Abdul Hamid Syah paduka sultan,
Duduklah baginda bersuka-sukaan.
Abdul Muluk putera baginda,
Besarlah sudah bangsawan muda,
Cantik menjelis’ usulnya syahda,
Tiga belas tahun umurnya ada.
Awang Sulung Merah Hendak Merantau
Awang Sulung Merah Muda:
”Ribu-ribu jalan ke kandis,
Landak membawa guliganya;
Badanku tinggal jangan menangis,
Anak membawa akan nasibnya”.
Maka dibalas oleh emak bungsunya:
”Air berolak menjala ikan,
Encik Seman menjala udang;
Anakku bertolak bunda pesankan,
Jangan lama di rantau orang”.
”Ribu-ribu jalan ke kandis,
Landak membawa guliganya;
Badanku tinggal jangan menangis,
Anak membawa akan nasibnya”.
Maka dibalas oleh emak bungsunya:
”Air berolak menjala ikan,
Encik Seman menjala udang;
Anakku bertolak bunda pesankan,
Jangan lama di rantau orang”.
Dengarlah Pantun
Buah ara, batang dibangun,
mari bantun dengan parang.
Hai saudara dengarlah pantun,
pantun tidak mengata orang.
Mari dibantun dengan parang,
berangan besar di dalam padi.
Pantun tidak mengata orang,
janganlah syak di dalam hati.
mari bantun dengan parang.
Hai saudara dengarlah pantun,
pantun tidak mengata orang.
Mari dibantun dengan parang,
berangan besar di dalam padi.
Pantun tidak mengata orang,
janganlah syak di dalam hati.
Aku Ingin
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
Dengan kata yang tak sempat diucapkan
Kayu kepada api yang menjadikannya abu
Aku ingin mencintaimu dengan sederhan
Dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
Awan kepada hujan yang menjadikannya tiada
Oleh : Sapardi Djoko Damono
Dengan kata yang tak sempat diucapkan
Kayu kepada api yang menjadikannya abu
Aku ingin mencintaimu dengan sederhan
Dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
Awan kepada hujan yang menjadikannya tiada
Oleh : Sapardi Djoko Damono
Teratai
Dalam kebun di tanah airku
Tumbuh sekuntum bunga teratai
Tersembunyi kembang indah permai
Tidak terlihat orang yang lalu
Akarnya tumbuh di hati dunia
Daun bersemi Laksmi mengarang
Biarpun dia diabaikan orang
Seroja kembang gemilang mulia
Teruskan, O Teratai Bahagia
Berseri di kebun Indonesia
Biar sedikit penjaga taman
Biarpun engkau tidak dilihat
Biarpun engkau tidak diminat
Engkaupun turut menjaga zaman
Oleh : Sanusi Pane
Tumbuh sekuntum bunga teratai
Tersembunyi kembang indah permai
Tidak terlihat orang yang lalu
Akarnya tumbuh di hati dunia
Daun bersemi Laksmi mengarang
Biarpun dia diabaikan orang
Seroja kembang gemilang mulia
Teruskan, O Teratai Bahagia
Berseri di kebun Indonesia
Biar sedikit penjaga taman
Biarpun engkau tidak dilihat
Biarpun engkau tidak diminat
Engkaupun turut menjaga zaman
Oleh : Sanusi Pane
Menyesal
Pagiku hilang sudah melayang
Hari mudaku sudah pergi
Sekarang petang datang membayang
Batang usiaku sudah tinggi.
Aku lalai di pagi hari
Beta lengah di masa muda
Kini hidup meracun hati
Miskin ilmu, miskin harta.
Akh, apa guna kusesalkan
Menyesal tua tiada berguna
Hanya menambah luka sukma.
Kepada yang muda kuharapkan
Atur barisan di hari pagi
Menuju ke atas padang bakti!
Oleh : A. Hasjmi
Hari mudaku sudah pergi
Sekarang petang datang membayang
Batang usiaku sudah tinggi.
Aku lalai di pagi hari
Beta lengah di masa muda
Kini hidup meracun hati
Miskin ilmu, miskin harta.
Akh, apa guna kusesalkan
Menyesal tua tiada berguna
Hanya menambah luka sukma.
Kepada yang muda kuharapkan
Atur barisan di hari pagi
Menuju ke atas padang bakti!
Oleh : A. Hasjmi
Sajak Gadis dan Majikan
Janganlah tuan seenaknya memelukku
Ke mana arahnya, sudah cukup aku tahu
Aku bukan ahli ilmu menduga,
Tetapi jelas sudah kutahu
Pelukan ini apa artinya...
Siallah pendidikan yang aku terima
Diajar aku berhitung, mengetik, bahasa asing,
kerapian, dan tata cara.
Tetapi lupa diajarkan:
bila dipeluk majikan dari belakang
lalu sikapku bagaimana!
Janganlah tuan seenaknya memelukku.
Sedangkan pacarku tak berani selangsung itu.
Apakah tujuan tuan, sudah cukup aku tahu,
Ketika tuan siku dadaku,
Sudah kutahu apa artinya...
Ke mana arahnya, sudah cukup aku tahu
Aku bukan ahli ilmu menduga,
Tetapi jelas sudah kutahu
Pelukan ini apa artinya...
Siallah pendidikan yang aku terima
Diajar aku berhitung, mengetik, bahasa asing,
kerapian, dan tata cara.
Tetapi lupa diajarkan:
bila dipeluk majikan dari belakang
lalu sikapku bagaimana!
Janganlah tuan seenaknya memelukku.
Sedangkan pacarku tak berani selangsung itu.
Apakah tujuan tuan, sudah cukup aku tahu,
Ketika tuan siku dadaku,
Sudah kutahu apa artinya...
Telepon Tengah Malam
Telepon berkali-kali berdering, kubiarkan saja.
Sudah sering aku terima telepon dan bertanya
”siapa ini?”, jawabnya cuma ”ini siapa?”.
Ada dering telepon, panjang dan keras,
dalam rongga dadaku.
”Ini siapa, tengah malam telepon?
Mengganggu saja.”
”Ini Ibu, Nak. Apa kabar?”
Sudah sering aku terima telepon dan bertanya
”siapa ini?”, jawabnya cuma ”ini siapa?”.
Ada dering telepon, panjang dan keras,
dalam rongga dadaku.
”Ini siapa, tengah malam telepon?
Mengganggu saja.”
”Ini Ibu, Nak. Apa kabar?”
Tamu
Getar kabut di kakimu
Tertinggal sebelum kau tolakkan pintu. Selamat malam.
Aku duduk sendiri, menulis surat, telah lupa seribu alamat
Dalam hati
Selamat malam, kau berseru, aku datang dari kota, singgah bertamu
(Kulihat hujan telah membiru pada wajahmu dan engahan
menanjak lewat pusatmu dadamu). Siapakah tuan?
Kau menyodorkan sebuah senapang: aku pemburu.
Tenteram. Hanya bayang-bayang kita
Teronggok berdesak-desakan.
Tertinggal sebelum kau tolakkan pintu. Selamat malam.
Aku duduk sendiri, menulis surat, telah lupa seribu alamat
Dalam hati
Selamat malam, kau berseru, aku datang dari kota, singgah bertamu
(Kulihat hujan telah membiru pada wajahmu dan engahan
menanjak lewat pusatmu dadamu). Siapakah tuan?
Kau menyodorkan sebuah senapang: aku pemburu.
Tenteram. Hanya bayang-bayang kita
Teronggok berdesak-desakan.
Penerimaan
Kalau kau mau kuterima kau kembali
Dengan sepenuh hati
Aku masih tetap sendiri
Kutahu kau bukan yang dulu lagi
Bak kembang sari sudah terbagi
Jangan tunduk! Tentang aku dengan berani
Kalau kau mau kuterima kau kembali
Untukku sendiri tapi
Sedang dengan cermin aku enggan berbagi
Oleh : Chairil Anwar
Dengan sepenuh hati
Aku masih tetap sendiri
Kutahu kau bukan yang dulu lagi
Bak kembang sari sudah terbagi
Jangan tunduk! Tentang aku dengan berani
Kalau kau mau kuterima kau kembali
Untukku sendiri tapi
Sedang dengan cermin aku enggan berbagi
Oleh : Chairil Anwar
Dewa Telah Mati
Tak ada dewa di rawa-rawa ini
Hanya gagak yang mengakak malam hari
Dan siang terbang mengitari bangkai
Pertapa yang terbunuh dekat kuil
Dewa telah mati di tepi-tepi ini
Hanya ular yang mendesir dekat sumber
Lalu minum dari mulut
Pelacur yang tersenyum dengan bayang sendiri
Hanya gagak yang mengakak malam hari
Dan siang terbang mengitari bangkai
Pertapa yang terbunuh dekat kuil
Dewa telah mati di tepi-tepi ini
Hanya ular yang mendesir dekat sumber
Lalu minum dari mulut
Pelacur yang tersenyum dengan bayang sendiri
Pahlawan Tak Dikenal
Sepuluh tahun yang lalu dia terbaring
Tetapi bukan tidur, sayang
Sebuah lubang peluru bundar di dadanya
Senyum bekunya mau berkata, kita sedang perang
Dia tidak ingat bilamana dia datang
Kedua lengannya memeluk senapan
Dia tidak tahu untuk siapa dia datang
Kemudian dia terbaring, tapi bukan tidur sayang
Tetapi bukan tidur, sayang
Sebuah lubang peluru bundar di dadanya
Senyum bekunya mau berkata, kita sedang perang
Dia tidak ingat bilamana dia datang
Kedua lengannya memeluk senapan
Dia tidak tahu untuk siapa dia datang
Kemudian dia terbaring, tapi bukan tidur sayang
Hai Laila
Hai Laila, sudah lama kita menunggumu
Sudah satu jam, berdering bel untuk satu jam pelajaranmu
Bukumu sudah kau baca tapi sudahkah ia masuk di kepalamu?
Otakmu kosong melompong, di atas kepalamu ada si tampan itu
Ulangan untukmu Rafi’ah... 9,5
Semua bersorak, bersiul-siul
Untukmu Laila... 4,5
Tercengang, dan nampak buku-buku cekakak-cekikik melihat Laila termenung kaku
Sudah satu jam, berdering bel untuk satu jam pelajaranmu
Bukumu sudah kau baca tapi sudahkah ia masuk di kepalamu?
Otakmu kosong melompong, di atas kepalamu ada si tampan itu
Ulangan untukmu Rafi’ah... 9,5
Semua bersorak, bersiul-siul
Untukmu Laila... 4,5
Tercengang, dan nampak buku-buku cekakak-cekikik melihat Laila termenung kaku
Kabar Bagi Maida 1
Aku terluka di tempat gempa, maida
Bukan oleh puing atau reruntuhan dinding
Tapi oleh derita yang tertangkap mata
Telah mencabik-cabik batinku.
Aku melihat rumah rebah ke tanah.
Kota yang dulu cantik kini telah menjadi kota puing.
Di sepanjang jalan mata seakan dicucuk duri ikan.
Kepedihan mereka menyusup ke dada.
Aku tak berpikir ini salah siapa.
Saut pun berpuisi, ”bencana alam bukan dosa!”
Bukan oleh puing atau reruntuhan dinding
Tapi oleh derita yang tertangkap mata
Telah mencabik-cabik batinku.
Aku melihat rumah rebah ke tanah.
Kota yang dulu cantik kini telah menjadi kota puing.
Di sepanjang jalan mata seakan dicucuk duri ikan.
Kepedihan mereka menyusup ke dada.
Aku tak berpikir ini salah siapa.
Saut pun berpuisi, ”bencana alam bukan dosa!”
Kampung
Kalau aku pergi ke luar negeri, dik
Karena hawa di sini sudah pengap oleh pikiran-pikiran beku.
Hidup di negeri ini seperti di dalam kampung
Di mana setiap orang ingin bikin peraturan
mengenai lalu lintas di gang, jaga malam dan
daftar diri di kemantrean.
Di mana setiap orang ingin bersuara
dan berbincang-bincang tentang susila, politik dan agama
seperti soal-soal yang dikuasai.
Karena hawa di sini sudah pengap oleh pikiran-pikiran beku.
Hidup di negeri ini seperti di dalam kampung
Di mana setiap orang ingin bikin peraturan
mengenai lalu lintas di gang, jaga malam dan
daftar diri di kemantrean.
Di mana setiap orang ingin bersuara
dan berbincang-bincang tentang susila, politik dan agama
seperti soal-soal yang dikuasai.
Batu Yang Bernyanyi
”Tuhan,” katamu, ”bersahabat dengan diam. Kembang tumbuh tanpa kata. Bulan bergerak, tanpa berisik.”
Maka, menyeberang dari kata, dari gemuruh dan tempik sorak,
Dari kasak-kusuk dan teriak, aku pun masuk ke dalam diam.
Kesunyian tumbuh jadi kata.
Diam mengembang jadi bahasa.
Bumi terus berputar, tanpa derak.
Waktu mengalir, tanpa kelucak.
Dan dalam diam, pepohonan menggeliat, batu-batu bernyanyi.
Rerumput tumbuh, tanpa bunyi. Embun lindap, seperti pencuri diam-diam datang merayakan pagi.
Maka, menyeberang dari kata, dari gemuruh dan tempik sorak,
Dari kasak-kusuk dan teriak, aku pun masuk ke dalam diam.
Kesunyian tumbuh jadi kata.
Diam mengembang jadi bahasa.
Bumi terus berputar, tanpa derak.
Waktu mengalir, tanpa kelucak.
Dan dalam diam, pepohonan menggeliat, batu-batu bernyanyi.
Rerumput tumbuh, tanpa bunyi. Embun lindap, seperti pencuri diam-diam datang merayakan pagi.
Perahu Kertas
Waktu masih kanak-kanak
Kau membuat perahu kertas
Dan kau layarkan di tepi kali;
Alirnya sangat tenang,
Dan perahumu bergoyang menuju lautan.
”Ia akan singgah di bandar-bandar besar,” kata seorang lelaki tua.
Kau sangat gembira,
Pulang dengan berbagai warna-warni di kepala.
Kau membuat perahu kertas
Dan kau layarkan di tepi kali;
Alirnya sangat tenang,
Dan perahumu bergoyang menuju lautan.
”Ia akan singgah di bandar-bandar besar,” kata seorang lelaki tua.
Kau sangat gembira,
Pulang dengan berbagai warna-warni di kepala.
Sahabat…
Sahabat…
Tidak menangis di kala sahabatnya menangis
Tapi sahabat
Akan menghapus air mata, saat sahabatnya menangis
Sahabat...
Bukankah seorang yang tidak pernah mengecewakan sahabatnya
Tapi sahabat,
Akan selalu berusaha memberikan yang terbaik
Sahabat...
Adakalanya tak sejalan dengan pikiran sahabatnya
Tapi sahabat,
Akan selalu bisa memaklumi satu dengan yang lain
Tidak menangis di kala sahabatnya menangis
Tapi sahabat
Akan menghapus air mata, saat sahabatnya menangis
Sahabat...
Bukankah seorang yang tidak pernah mengecewakan sahabatnya
Tapi sahabat,
Akan selalu berusaha memberikan yang terbaik
Sahabat...
Adakalanya tak sejalan dengan pikiran sahabatnya
Tapi sahabat,
Akan selalu bisa memaklumi satu dengan yang lain
The Last Five Minutes
Just five minutes
For this is the last time
We could meet
Before a very long journey
Of each other own
Just five minutes
To recall those memories
To gather the happy and bad times
The puzzled along this rocky road
I just ask five minutes
To look into your eyes
To feel you by my side
To share the love
For this is the last time
We could meet
Before a very long journey
Of each other own
Just five minutes
To recall those memories
To gather the happy and bad times
The puzzled along this rocky road
I just ask five minutes
To look into your eyes
To feel you by my side
To share the love
Doa ku
Tuhan yang baik...
Tolong...berikan ijin kepada malaikat-Mu
Untuk menjaga para sahabat ku
Di kala penjagaanku tak sampai kepada mereka
Sayangi mereka ya Tuhan...
Di kala rasa sayangku tak mampu merengkuh dalam dekapan nyata
Sampaikan rasa rindukan pada mereka Tuhan...
Di kala rinduku tak mampu terangkum dalam kata yang sahaja...
Tolong...berikan ijin kepada malaikat-Mu
Untuk menjaga para sahabat ku
Di kala penjagaanku tak sampai kepada mereka
Sayangi mereka ya Tuhan...
Di kala rasa sayangku tak mampu merengkuh dalam dekapan nyata
Sampaikan rasa rindukan pada mereka Tuhan...
Di kala rinduku tak mampu terangkum dalam kata yang sahaja...
Minggu, 21 Agustus 2011
’13’ di...
19 Maret 2009...
Awalnya aku tak mengerti ocehan guru
Namun tanganku tak bergerak untuk berbuat sesuatu
Hanya sebuah coretan pena
Dalam lembaran garis putih yang tak terencana
Teruntuk mabes-kireina, getakesu, angkatan-13 yang di...
Pokoknya gue harus bisa
Terserah loe mau apa
Nanti bakal gue buktiin
Awalnya aku tak mengerti ocehan guru
Namun tanganku tak bergerak untuk berbuat sesuatu
Hanya sebuah coretan pena
Dalam lembaran garis putih yang tak terencana
Teruntuk mabes-kireina, getakesu, angkatan-13 yang di...
Pokoknya gue harus bisa
Terserah loe mau apa
Nanti bakal gue buktiin
Miracle of 13
Ku ungkapkan manis di hadapanmu
Walau pahit merajai kerongkonganku
Kau nikmati seutuhnya kasih dan sayang itu
Sedang nyawaku ada dalam genggamanmu
Menari, bernyanyi, berlari memeluk matahari
Terbang tenggelam di ufuk jiwa yang mulai rapuh
Menantimu kawan...
Menantimu menyambut raihan tanganku
Ku sematkan cinta tulus menembus hembusan nafasmu
Dalam...
Terlalu dalam...
Hingga ajal menjemput tak jua lepas dari badan
Inilah persembahanku padamu
Sebut saja kata-kata usang
Walau pahit merajai kerongkonganku
Kau nikmati seutuhnya kasih dan sayang itu
Sedang nyawaku ada dalam genggamanmu
Menari, bernyanyi, berlari memeluk matahari
Terbang tenggelam di ufuk jiwa yang mulai rapuh
Menantimu kawan...
Menantimu menyambut raihan tanganku
Ku sematkan cinta tulus menembus hembusan nafasmu
Dalam...
Terlalu dalam...
Hingga ajal menjemput tak jua lepas dari badan
Inilah persembahanku padamu
Sebut saja kata-kata usang
Senin, 28 Februari 2011
Pesan kepada para bajingan!!
Hai bajingan-bajingan,
Kenapa engkau buka lembaran-lembaran aib saudaramu
Kau bernyanyi di pentas kesengsaraan saudaramu
Melakukan hal-hal yang kau anggap tak berdosa
Bermandikan penderitaan, kau menari-nari ditelaga kesedihan
Sungguh kau tak bermalu
Hai bajingan-bajingan,
Bertunduklah di hadapan Tuhanmu
Menyatulah bersama saudaramu
Tak perlu bernyanyi meski kau menari
Tak perlu menangis meski kau bersedih
Karena air matamu, hanya tangisan belaka menuntut balas iba
Kenapa engkau buka lembaran-lembaran aib saudaramu
Kau bernyanyi di pentas kesengsaraan saudaramu
Melakukan hal-hal yang kau anggap tak berdosa
Bermandikan penderitaan, kau menari-nari ditelaga kesedihan
Sungguh kau tak bermalu
Hai bajingan-bajingan,
Bertunduklah di hadapan Tuhanmu
Menyatulah bersama saudaramu
Tak perlu bernyanyi meski kau menari
Tak perlu menangis meski kau bersedih
Karena air matamu, hanya tangisan belaka menuntut balas iba
Padamu…
Manakala bintang malam enggan berpijar
Manakala bulan ayu enggan merayu
Tak demikian hatiku
Padamu...
Jikalau telah berlalu
Hari berganti waktu
Terus berjalan tak demikian hatiku
Padamu...
Manakala bulan ayu enggan merayu
Tak demikian hatiku
Padamu...
Jikalau telah berlalu
Hari berganti waktu
Terus berjalan tak demikian hatiku
Padamu...
Bewildement of Life
My bones have killed
One by one, to learn my eyes
I’m afraid to hear that
And I live in other world
Suddenly get up from scream
From the song of dream
Go out from important run
Spirit for off set
One by one, to learn my eyes
I’m afraid to hear that
And I live in other world
Suddenly get up from scream
From the song of dream
Go out from important run
Spirit for off set
Penantian Yang Tak Berujung
Senja t’lah tiba
Saat ku t’lah menunggu
Berharap satu langkah kaki
Kan mengakhiri penantianku
Satu tawa yang tak berakhir
Seakan merobek sejuta harapan
Walau hanya sebatas khayalan
Mengapa begitu menyakitkan???
Saat ku t’lah menunggu
Berharap satu langkah kaki
Kan mengakhiri penantianku
Satu tawa yang tak berakhir
Seakan merobek sejuta harapan
Walau hanya sebatas khayalan
Mengapa begitu menyakitkan???
Tikam Shu
Tik...tik...siam
Mar menggenggam talam
Mar nama suatu tempat
Mar dua konsonan kata
Shu seperti dari timur
Shu bermata sipit
Kam suatu sapaan asing
Kam sia liang vivi
Mar menggenggam talam
Mar nama suatu tempat
Mar dua konsonan kata
Shu seperti dari timur
Shu bermata sipit
Kam suatu sapaan asing
Kam sia liang vivi
Sendiri, Meratapi
Terpaku di heningnya senja
Meratapi nasib naas yang menghampiri
Bola mata yang berkaca-kaca
Tak percaya apa yang terjadi
Deras sungai mengalir perlahan
Sang bayu yang berhembus lirih
Menemani bayang-bayang angan
Yang semakin dalam menikam hati
Meratapi nasib naas yang menghampiri
Bola mata yang berkaca-kaca
Tak percaya apa yang terjadi
Deras sungai mengalir perlahan
Sang bayu yang berhembus lirih
Menemani bayang-bayang angan
Yang semakin dalam menikam hati
Langganan:
Postingan (Atom)