Senin, 05 Desember 2011

Puisi Untuk Bunda

Bunda yang telah beranjak sepuh,
dan kau yang telah tumbuh dewasa,
Kala yang biasanya mudah dan tanpa upaya,
kini menjadi beban,
Kala mata terkasihnya nan setia
tak menerawang kehidupan seperti dulu,
Kala kakinya mulai lelah dan enggan menyokong tubuhnya lagi,

Kala itu berikanlah lenganmu untuk menyokongnya,
Waktu akan tiba
Ketika kau terisak menemaninya
dalam perjalanan terakhirnya


Derai-Derai Cemara

Cemara menderai sampai jauh
terasa hari akan jadi malam
ada beberapa dahan di tingkap merapuh
dipukul angin yang terpendam

Aku sekarang orangnya bisa tahan
Hidup hanya menunda kekalahan
sudah berapa waktu bukan kanak lagi
tapi dulu memang ada suatu bahan
yang bukan dasar perhitungan kini

Selasa, 08 November 2011

Menjadi Kuat

Serasa masih bersamanya
Selalu terkenang kebaikannya
Serasa aku tak pernah patah hati
Setiap kali memandangnya
Hatiku selalu bergetar
Serasa tidak bisa melepaskannya
Tiada yang bisa menggantikannya
Aku tidak boleh terlihat lemah

Damai

Aku datang menemuimu
Dengan hati sejuk
Dan pikiran yang tenang
Kududuk bersamamu
Di bawah pohon besar
Dan rindang...!!!
Kudengar suaramu merdu
Dan kutatap wajahmu
Yang begitu indah
Tuhan...!!!

Sahabatku

Kaulah yang satu
Arif tutur katamu
Bak kidung penyambut pagi
Yang telah membangunkan aku
Tanganmu menggapaiku
Aku telah bangkit dan
Menapaki jalan ku dengan asa yang baru
Hari ini aku tersenyum
Terimakasih sahabatku

Drama Kehidupan

Di sini ada drama
Di sana juga ada
Drama kehidupan manusia
Yang penuh kebohongan
Diperankan kaum birokrat
Kami adalah korban drama
Hanya demi uang dan jabatan
Yang hanya bersifat sementara

Kamis, 27 Oktober 2011

Doa

Dengan apakah kubandingkan pertemuan kita, kekasihku?
Dengan senja samar sepoi, pada masa purnama meningkat naik,
Setelah menghalaukan panas payah terik
Angin malam menghembus lemah, menyejuk badan, melambung rasa
Menayang pikir, membawa angan ke bawah kursiMu.
Hatiku terang menerima kataMu, bagai bintang memasang lilin.
Kalbuku terbuka menunggu kasihMu, bagai sedap malam menyirak kelopak.
Aduh kekasih hatiku, isi hatiku dengan kataMu, penuhi dadaku.
Dengan cayaMu, biar bersinar mataku sendu, biar berbinar gelakku rayu.

Hampa

Sepi di luar
Sepi menekan mendesak
Lurus kaku pohonan
Tak bergerak
Sampai ke puncak
Sepi memagut
Segala menanti, menanti, menanti
Sepi
Tambah ini menanti jadi mencekik
Memberat mencekung punda
Sampai binasa segala.
Belum apa-apa

Makna Sebuah Titipan

Sering kah aku berkata, ketika orang memuji milikku, bahwa:
Sesungguhnya ini hanya titipan, bahwa mobilku
hanya titipan Allah bahwa rumahku hanya titipan Nya,
bahwa hartaku hanya titipan Nya,
bahwa putraku hanya titipan Nya,

Tetapi, mengapa aku tak pernah bertanya,
Mengapa Dia menitipkan padaku?
Untuk apa Dia menitipkan ini pada ku?
Dan kalau bukan milikku,
Apa yang harus kulakukan untuk milik Nya ini?

Perempuan-Perempuan Perkasa

Perempuan-perempuan yang membawa bakul di pagi buta,
Dari manakah mereka
Ke stasiun mereka datang dari bukit-bukit desa
Sebelum peluit kereta pagi terjaga
Sebelum hari bermula dalam pesta kerja

Perempuan-perempuan yang membawa bakul di pagi buta,
Ke manakah mereka
Di atas roda-roda baja mereka berkendara
Mereka berlomba dengan surya menuju gerbang kota
Merebut hidup di pasar-pasar kota

Nyanyian Suto Untuk Fatima

Duapuluh matahari
Bangkit dari pundakmu
Tubuhmu menguapkan bau tanah
Dan menyalalah sukmamu
Langit bagai kain tetoron yang biru
Terbentang
Berkilat dan berkilauan
Menantang jendela kalbu yang berdukacita
Rohku dan rohmu

Kita Adalah Pemilik Sah Republik Ini

Tidak ada lagi pilihan lain
Kita harus
Berjalan terus
Kita adalah manusia bermata sayu,
yang di tepi jalan
Mengacungkan tangan untuk oplet
dan bus yang penuh
Kita adalah berpuluh juta
yang bertahan hidup sengsara

Yang Kami Minta Hanyalah

Yang kami minta hanyalah sebuah bendungan saja
Penawar musim kemarau dan tangkal bahaya banjir
Tentu Bapa sudah melihat gambarnya di koran kota
Tatkala semua orang bersedih sekadarnya

Yang kami minta hanya sebuah bendungan saja
Tidak tugu atau tempat main bola
Air mancur warna-warni

Karangan Bunga

Tiga anak kecil
Dalam langkah malu-malu
Datang ke Salemba
Sore itu
“Ini dari kami bertiga
Pita hitam dalam karangan bunga
Sebab kami ikut berduka
Bagi kakak yang ditembak mati
Sore itu”

Seratus Juta

Umat miskin dan pengangguran berdiri hari ini
Seratus juta banyaknya
Di tengah mereka tak tahu akan berbuat apa
Kini kutundukan kepala karena
Ada sesuatu besar luar biasa
Hingga terasa dari rongga dada
Saudaraku yang sirna nafkah tanpa kerja
berdiri hari ini
Seratus juta banyaknya
Kita mesti berbuat sesuatu, betapapun sukarnya

Oleh : Taufiq Ismail

Derai Derai Cemara

Cemara menderai sampai jauh
Terasa hari akan jadi malam
Ada beberapa bahan di tingkap merapuh
Dipukul angin yang terpendam

Aku sekarang orangnya bisa tahan
Sudah berapa waktu bukan kanak lagi
Tapi dulu memang ada suatu bahan
Yang bukan dasar perhitungan kini

Doa Orang Lapar

Kelaparan adalah burung gagak
Yang licik dan hitam
Jutaan burung-burung gagak
Bagai awan yang hitam
O Allah!
Burung gagak menakutkan
Dan kelaparan adalah burung gagak

Sajak Putih

Bersandar pada tari warna pelangi
Kau depanku bertudung sutra senja
Di hitam matamu kembang mawar dan melati
Harum rambutmu mengalun bergelut senda

Sepi menyanyi, malam dalam mendoa tiba
Meriak muka air kolam jiwa
Dan dalam dadaku memerdu lagu
Menarik menari seluruh aku

Dirimu...

Dahulu...
Engkau disini memberiku kenyamanan
Kenyamanan dimanaku berada kini
Kadang kau buatku terjatuh
Dalam kesenangan yang kau bentuk buatku

Lupa...
Ku lupa akan sekelilingku
Melihatmu...
Adalah anugrah buatku

Jumat, 07 Oktober 2011

Still be Us

Sudah terlalu jauh tuk menyerah
Ayunan langkah yang sempat menggoyah
Hanya menjadi debu yang mengacaukan
Hanya menjadi boomerang yang menghancurkan

Berjuta kali ku coba menghalau nya
Layaknya tentara yang menghadang sejumlah massa
Ku coba menjadi pahlawan dalam kisahku
Mempertahankan kisah yang begitu berharga bagiku

Kehancuran Hatiku

Bersandar pada airmata
Berpangku pada penderitaan
Kau lepas aku di tengah zaman
Membiarkan ku sirna

Membalut ku dengan hujan
Menyentuh ku dengan api
Merebahkan ku pada duri
Letak ku di ujung tombak

Kamis, 06 Oktober 2011

Cinta Yang Dipertanyakan

Lelah dengan tangisan
Lari pada kekecewaan
Haruskah???

Tak mampukah terhenti?
Ingin merasakan kebahagiaan
Walau sebentar dan bukan
Fatamorgana...

Forever With You

Kau...
Hanya butuh satu kata
Tuk menggambarkan mu

Sempurna...
Bagi ku kau sempurna
Sempurna dalam mencuri hati ku
Sempurna dalam memeluk jiwa ku
Sempurna dalam menyentuh batin ku

Lagu Usang

Musik itu mengalun kembali.
Mengajak aku bernyanyi,
Lagu lama yang usang
Yang setiap katanya adalah hatiku
Dan nadanya menjadi bagian dari ku
Bagai terjebak dalam suatu augede
Dengan konduktor dan tongkatnya yang menusuk nusuk

Jumat, 23 September 2011

Kelinciku

Kelinciku sangatlah putih
Telinga panjang mata pun bersih
Melompat-lompat berlari-lari
Menari-nari kian kemari

Kelinciku amat lucunya
Hidung bergerak tak ada diamnya
Mencium rumput dan kulit pisang
Sebelum dimakan kelinci sayang

Matahari

Matahari
Engkau begitu indah
Pada waktu sore hari
Matahari Cahaya terang
Walaupun dipandang sekejap
Terasa indah Matahari
Ingin kuraih engkau
Dan kusimpan dalam
Genggaman tanganku

Oleh : Yudi S

Kembang Sepatu

Ingin sepatu kalian berkilat
ambillah saribungaku
pergunakan baik-baik
usapkan pada sepatu
wow nampaknya berkilau
mungkin itulah sebabnya
orang menyebutku
Kembang Sepatu.

Oleh : L. K. Ara

Sembahyang

Kemumu di dalam semak.
Jatuh melayang seleranya.
Meski ilmu setinggi tegak,
Tidak sembahyang apa gunanya.

Orang Bayang pergi mengaji,
ke Cubadak jalan ke Panti.
Meninggalkan sembahyang jadi berani,
Seperti badan takkan mati.

Senin, 29 Agustus 2011

Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia

Ketika di Pekalongan, SMA kelas tiga
Ke Wisconsin aku dapat beasiswa
Sembilan belas lima enam itulah tahunnya
Aku gembira jadi anak revolusi Indonesia
Negeriku baru enam tahun terhormat diakui dunia
Terasa hebat merebut merdeka dari Belanda
Sahabatku sekelas, Thomas Stone namanya,
Whitefish Bay kampung asalnya
Kagum dia pada revolusi Indonesia
Dia mengarang tentang pertempuran Surabaya
Jelas Bung Tomo sebagai tokoh utama

Abdul Muluk

Berhentilah kisah raja Hindustan,
Tersebutlah pula suatu perkataan,
Abdul Hamid Syah paduka sultan,
Duduklah baginda bersuka-sukaan.

Abdul Muluk putera baginda,
Besarlah sudah bangsawan muda,
Cantik menjelis’ usulnya syahda,
Tiga belas tahun umurnya ada.

Awang Sulung Merah Hendak Merantau

Awang Sulung Merah Muda:
”Ribu-ribu jalan ke kandis,
Landak membawa guliganya;
Badanku tinggal jangan menangis,
Anak membawa akan nasibnya”.

Maka dibalas oleh emak bungsunya:
”Air berolak menjala ikan,
Encik Seman menjala udang;
Anakku bertolak bunda pesankan,
Jangan lama di rantau orang”.

Dengarlah Pantun

Buah ara, batang dibangun,
mari bantun dengan parang.
Hai saudara dengarlah pantun,
pantun tidak mengata orang.

Mari dibantun dengan parang,
berangan besar di dalam padi.
Pantun tidak mengata orang,
janganlah syak di dalam hati.

Aku Ingin

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
Dengan kata yang tak sempat diucapkan
Kayu kepada api yang menjadikannya abu

Aku ingin mencintaimu dengan sederhan
Dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
Awan kepada hujan yang menjadikannya tiada

Oleh : Sapardi Djoko Damono

Teratai

Dalam kebun di tanah airku
Tumbuh sekuntum bunga teratai
Tersembunyi kembang indah permai
Tidak terlihat orang yang lalu
Akarnya tumbuh di hati dunia
Daun bersemi Laksmi mengarang
Biarpun dia diabaikan orang
Seroja kembang gemilang mulia
Teruskan, O Teratai Bahagia
Berseri di kebun Indonesia
Biar sedikit penjaga taman
Biarpun engkau tidak dilihat
Biarpun engkau tidak diminat
Engkaupun turut menjaga zaman

Oleh : Sanusi Pane

Menyesal

Pagiku hilang sudah melayang
Hari mudaku sudah pergi
Sekarang petang datang membayang
Batang usiaku sudah tinggi.
Aku lalai di pagi hari
Beta lengah di masa muda
Kini hidup meracun hati
Miskin ilmu, miskin harta.
Akh, apa guna kusesalkan
Menyesal tua tiada berguna
Hanya menambah luka sukma.
Kepada yang muda kuharapkan
Atur barisan di hari pagi
Menuju ke atas padang bakti!

Oleh : A. Hasjmi

Sajak Gadis dan Majikan

Janganlah tuan seenaknya memelukku
Ke mana arahnya, sudah cukup aku tahu
Aku bukan ahli ilmu menduga,
Tetapi jelas sudah kutahu
Pelukan ini apa artinya...

Siallah pendidikan yang aku terima
Diajar aku berhitung, mengetik, bahasa asing,
kerapian, dan tata cara.
Tetapi lupa diajarkan:
bila dipeluk majikan dari belakang
lalu sikapku bagaimana!
Janganlah tuan seenaknya memelukku.
Sedangkan pacarku tak berani selangsung itu.
Apakah tujuan tuan, sudah cukup aku tahu,
Ketika tuan siku dadaku,
Sudah kutahu apa artinya...

Telepon Tengah Malam

Telepon berkali-kali berdering, kubiarkan saja.
Sudah sering aku terima telepon dan bertanya
”siapa ini?”, jawabnya cuma ”ini siapa?”.

Ada dering telepon, panjang dan keras,
dalam rongga dadaku.
”Ini siapa, tengah malam telepon?
Mengganggu saja.”
”Ini Ibu, Nak. Apa kabar?”

Tamu

Getar kabut di kakimu
Tertinggal sebelum kau tolakkan pintu. Selamat malam.

Aku duduk sendiri, menulis surat, telah lupa seribu alamat
Dalam hati
Selamat malam, kau berseru, aku datang dari kota, singgah bertamu
(Kulihat hujan telah membiru pada wajahmu dan engahan
menanjak lewat pusatmu dadamu). Siapakah tuan?
Kau menyodorkan sebuah senapang: aku pemburu.

Tenteram. Hanya bayang-bayang kita
Teronggok berdesak-desakan.

Penerimaan

Kalau kau mau kuterima kau kembali
Dengan sepenuh hati

Aku masih tetap sendiri

Kutahu kau bukan yang dulu lagi
Bak kembang sari sudah terbagi

Jangan tunduk! Tentang aku dengan berani
Kalau kau mau kuterima kau kembali
Untukku sendiri tapi
Sedang dengan cermin aku enggan berbagi

Oleh : Chairil Anwar

Dewa Telah Mati

Tak ada dewa di rawa-rawa ini
Hanya gagak yang mengakak malam hari
Dan siang terbang mengitari bangkai
Pertapa yang terbunuh dekat kuil

Dewa telah mati di tepi-tepi ini
Hanya ular yang mendesir dekat sumber
Lalu minum dari mulut
Pelacur yang tersenyum dengan bayang sendiri

Pahlawan Tak Dikenal

Sepuluh tahun yang lalu dia terbaring
Tetapi bukan tidur, sayang
Sebuah lubang peluru bundar di dadanya
Senyum bekunya mau berkata, kita sedang perang

Dia tidak ingat bilamana dia datang
Kedua lengannya memeluk senapan
Dia tidak tahu untuk siapa dia datang
Kemudian dia terbaring, tapi bukan tidur sayang

Hai Laila

Hai Laila, sudah lama kita menunggumu
Sudah satu jam, berdering bel untuk satu jam pelajaranmu
Bukumu sudah kau baca tapi sudahkah ia masuk di kepalamu?
Otakmu kosong melompong, di atas kepalamu ada si tampan itu
Ulangan untukmu Rafi’ah... 9,5
Semua bersorak, bersiul-siul
Untukmu Laila... 4,5
Tercengang, dan nampak buku-buku cekakak-cekikik melihat Laila termenung kaku

Kabar Bagi Maida 1

Aku terluka di tempat gempa, maida
Bukan oleh puing atau reruntuhan dinding
Tapi oleh derita yang tertangkap mata
Telah mencabik-cabik batinku.
Aku melihat rumah rebah ke tanah.
Kota yang dulu cantik kini telah menjadi kota puing.

Di sepanjang jalan mata seakan dicucuk duri ikan.
Kepedihan mereka menyusup ke dada.
Aku tak berpikir ini salah siapa.
Saut pun berpuisi, ”bencana alam bukan dosa!”

Kampung

Kalau aku pergi ke luar negeri, dik
Karena hawa di sini sudah pengap oleh pikiran-pikiran beku.

Hidup di negeri ini seperti di dalam kampung
Di mana setiap orang ingin bikin peraturan
mengenai lalu lintas di gang, jaga malam dan
daftar diri di kemantrean.

Di mana setiap orang ingin bersuara
dan berbincang-bincang tentang susila, politik dan agama
seperti soal-soal yang dikuasai.

Batu Yang Bernyanyi

”Tuhan,” katamu, ”bersahabat dengan diam. Kembang tumbuh tanpa kata. Bulan bergerak, tanpa berisik.”

Maka, menyeberang dari kata, dari gemuruh dan tempik sorak,
Dari kasak-kusuk dan teriak, aku pun masuk ke dalam diam.
Kesunyian tumbuh jadi kata.
Diam mengembang jadi bahasa.

Bumi terus berputar, tanpa derak.
Waktu mengalir, tanpa kelucak.
Dan dalam diam, pepohonan menggeliat, batu-batu bernyanyi.
Rerumput tumbuh, tanpa bunyi. Embun lindap, seperti pencuri diam-diam datang merayakan pagi.

Perahu Kertas

Waktu masih kanak-kanak
Kau membuat perahu kertas
Dan kau layarkan di tepi kali;
Alirnya sangat tenang,
Dan perahumu bergoyang menuju lautan.

”Ia akan singgah di bandar-bandar besar,” kata seorang lelaki tua.

Kau sangat gembira,
Pulang dengan berbagai warna-warni di kepala.

Sahabat…

Sahabat…
Tidak menangis di kala sahabatnya menangis
Tapi sahabat
Akan menghapus air mata, saat sahabatnya menangis

Sahabat...
Bukankah seorang yang tidak pernah mengecewakan sahabatnya
Tapi sahabat,
Akan selalu berusaha memberikan yang terbaik

Sahabat...
Adakalanya tak sejalan dengan pikiran sahabatnya
Tapi sahabat,
Akan selalu bisa memaklumi satu dengan yang lain

The Last Five Minutes

Just five minutes
For this is the last time
We could meet
Before a very long journey
Of each other own

Just five minutes
To recall those memories
To gather the happy and bad times
The puzzled along this rocky road

I just ask five minutes
To look into your eyes
To feel you by my side
To share the love

Doa ku

Tuhan yang baik...
Tolong...berikan ijin kepada malaikat-Mu
Untuk menjaga para sahabat ku
Di kala penjagaanku tak sampai kepada mereka

Sayangi mereka ya Tuhan...
Di kala rasa sayangku tak mampu merengkuh dalam dekapan nyata

Sampaikan rasa rindukan pada mereka Tuhan...
Di kala rinduku tak mampu terangkum dalam kata yang sahaja...

Minggu, 21 Agustus 2011

’13’ di...

19 Maret 2009...
Awalnya aku tak mengerti ocehan guru
Namun tanganku tak bergerak untuk berbuat sesuatu
Hanya sebuah coretan pena
Dalam lembaran garis putih yang tak terencana
Teruntuk mabes-kireina, getakesu, angkatan-13 yang di...

Pokoknya gue harus bisa
Terserah loe mau apa
Nanti bakal gue buktiin

Miracle of 13

Ku ungkapkan manis di hadapanmu
Walau pahit merajai kerongkonganku
Kau nikmati seutuhnya kasih dan sayang itu
Sedang nyawaku ada dalam genggamanmu
Menari, bernyanyi, berlari memeluk matahari
Terbang tenggelam di ufuk jiwa yang mulai rapuh
Menantimu kawan...
Menantimu menyambut raihan tanganku

Ku sematkan cinta tulus menembus hembusan nafasmu
Dalam...
Terlalu dalam...
Hingga ajal menjemput tak jua lepas dari badan
Inilah persembahanku padamu
Sebut saja kata-kata usang

Senin, 28 Februari 2011

Pesan kepada para bajingan!!

Hai bajingan-bajingan,
Kenapa engkau buka lembaran-lembaran aib saudaramu
Kau bernyanyi di pentas kesengsaraan saudaramu
Melakukan hal-hal yang kau anggap tak berdosa
Bermandikan penderitaan, kau menari-nari ditelaga kesedihan
Sungguh kau tak bermalu

Hai bajingan-bajingan,
Bertunduklah di hadapan Tuhanmu
Menyatulah bersama saudaramu
Tak perlu bernyanyi meski kau menari
Tak perlu menangis meski kau bersedih
Karena air matamu, hanya tangisan belaka menuntut balas iba

Padamu…

Manakala bintang malam enggan berpijar
Manakala bulan ayu enggan merayu
Tak demikian hatiku
Padamu...

Jikalau telah berlalu
Hari berganti waktu
Terus berjalan tak demikian hatiku
Padamu...

Bewildement of Life

My bones have killed
One by one, to learn my eyes
I’m afraid to hear that
And I live in other world

Suddenly get up from scream
From the song of dream
Go out from important run
Spirit for off set

Penantian Yang Tak Berujung

Senja t’lah tiba
Saat ku t’lah menunggu
Berharap satu langkah kaki
Kan mengakhiri penantianku

Satu tawa yang tak berakhir
Seakan merobek sejuta harapan
Walau hanya sebatas khayalan
Mengapa begitu menyakitkan???

Tikam Shu

Tik...tik...siam
Mar menggenggam talam
Mar nama suatu tempat
Mar dua konsonan kata

Shu seperti dari timur
Shu bermata sipit
Kam suatu sapaan asing
Kam sia liang vivi

Sendiri, Meratapi

Terpaku di heningnya senja
Meratapi nasib naas yang menghampiri
Bola mata yang berkaca-kaca
Tak percaya apa yang terjadi

Deras sungai mengalir perlahan
Sang bayu yang berhembus lirih
Menemani bayang-bayang angan
Yang semakin dalam menikam hati