”Tuhan,” katamu, ”bersahabat dengan diam. Kembang tumbuh tanpa kata. Bulan bergerak, tanpa berisik.”
Maka, menyeberang dari kata, dari gemuruh dan tempik sorak,
Dari kasak-kusuk dan teriak, aku pun masuk ke dalam diam.
Kesunyian tumbuh jadi kata.
Diam mengembang jadi bahasa.
Bumi terus berputar, tanpa derak.
Waktu mengalir, tanpa kelucak.
Dan dalam diam, pepohonan menggeliat, batu-batu bernyanyi.
Rerumput tumbuh, tanpa bunyi. Embun lindap, seperti pencuri diam-diam datang merayakan pagi.
Telah kudengar.
Agaknya telah kudengar, Bunda, desah bunga-bunga menyembul dari kelopak.
Batu-batu bernyanyi.
Lalu, bagaimana harus kudengar suara badai, misalnya di Aceh?
Mengenang Bunda Theresa oleh Ahmad Nurullah
Tidak ada komentar:
Posting Komentar