Hai Laila, sudah lama kita menunggumu
Sudah satu jam, berdering bel untuk satu jam pelajaranmu
Bukumu sudah kau baca tapi sudahkah ia masuk di kepalamu?
Otakmu kosong melompong, di atas kepalamu ada si tampan itu
Ulangan untukmu Rafi’ah... 9,5
Semua bersorak, bersiul-siul
Untukmu Laila... 4,5
Tercengang, dan nampak buku-buku cekakak-cekikik melihat Laila termenung kaku
Sementara,
Kursi dan meja-meja menatap begitu garing
Buatkan ngilu karena malu
Buatkan pilu yang terasa menyayat kalbu
”Sedang buatkan apa di kepalamu, hai Laila?”
Suara itu begitu nyaring menghentakkan
Degup-degup jantung yang berdenyut itu
Jangan kau pasangkan es krim, bakso, jalan-jalan, dan pancaran di kepalamu!
Jangan kau jatuhkan air asin itu
Dari kelopak mata indahmu
Tak ada guna, dan...
Bukan itu yang mereka mau
”Terus, teruslah kau kutip ilmu-ilmu itu
Dengan secarik kertas dan tinta hitam
Lalu masukkanlah ke berangkas otakmu
Tanpa menangis dan basa-basi
Agar kau ambil di hari nanti!”
Oleh : Tutus Siti Halimatunnissa’diah
Salam kenal, trimakasih sudah memasang puisi karya saya, "Hai Laila" itu adalah pengalaman pribadi, dan puosi tersebut saya menangkan pada lomba puisi piala rendra tingkat nasional di UPI bandung, sy waktu itu sampai menginap di rumah sastrawan kang Iman sholeh-tahun 2006, sebetulnya, laila itu saya sendiri, di puisi itu sya sedang manasehati diri saya sendiri yg dikecewakan atas ulangan harian biologi yg jelek bgt hasilnya, dan itu benar benilai 4,5. Tidak sangka ulangan jelek bisa jadi inspirasi lomba waktu itu. Hehehehe sekarang sy sendiri sudah bisa menikmati hasilnya,sejak itu sy tidak mau lagi punya nilai sejelek itu, dan saat kuliah sy mencatat target nilai dihalanan depan buku catatan, nilai saya harus A semua, hasilnya sy lulus sg predikat cum laude, dan sy sekarang bekerja sebagai PNS di Kota Sukabumi, jabar. Semoga puisi sy dapat memotivasi teman2 yg lainnya.Salam sukses
BalasHapusTerima kasih
HapusSukse selalu. :)