Senin, 29 Agustus 2011

Tamu

Getar kabut di kakimu
Tertinggal sebelum kau tolakkan pintu. Selamat malam.

Aku duduk sendiri, menulis surat, telah lupa seribu alamat
Dalam hati
Selamat malam, kau berseru, aku datang dari kota, singgah bertamu
(Kulihat hujan telah membiru pada wajahmu dan engahan
menanjak lewat pusatmu dadamu). Siapakah tuan?
Kau menyodorkan sebuah senapang: aku pemburu.

Tenteram. Hanya bayang-bayang kita
Teronggok berdesak-desakan.

Bersama kita, Kesepian? Bayangmu berbisik tak kedengaran.
Tidak. Aku bukan Kesepian, sahut bayangku perlahan-lahan.

Kemudian, mereka cuma diam. Dan kita pun Cuma diam.
Kutulis surat, kubakar dalam api pendiangan
Dan kau sandarkan senapang ke arah kertas penanggalan.
Di luar kudengar kabut, kudengar kabut berjalan-jalan.

Oleh : Goenawan Mohamad

Tidak ada komentar:

Posting Komentar